Sabtu, 18 Juni 2011

TIPE-TIPE HUTAN


I.      PENDAHULUAN
Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfera Bumi yang paling penting.
Luas hutan hujan tropika di dunia hanya meliputi 7 % dari luas permukaan bumi, tetapi mengandung lebih dari 50 % total jenis yang ada di seluruh dunia. Kenyataan ini menunjukkan bahwa hutan hujan tropika merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati terpenting di dunia. Laju kerusakan hutan hujan tropika yang relatif cepat (bervariasi menurut negara) telah menyebabkan tipe hutan ini menjadi pusat perhatian dunia internasional. Meskipun luas Indonesia hanya 1.3 % dari luas bumi, tetapi memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, meliputi : 10 % dari total jenis tumbuhan berbunga, 12 % dari total jenis mamalia, 16 % dari total jenis reptilia, 17 % dari total jenis burung dan 25 % dari total jenis ikan di seluruh dunia. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi pusat perhatian dunia internasional dalam hal keanekaragaman hayatinya.
Indonesia memiliki luas hutan hujan tropika yang terluas di Asia tropis. Pada saat ini, luas kawasan hutan Indonesia adalah 144 juta hektar, 64.4 juta hektar di antaranya berstatus hutan produksi (tetap dan terbatas). Menurut laporan resmi (Ministry of Forestry GOI and FAO, 1990; 1991), dari seluruh kawasan hutan ini, 108.6 juta ha di antaranya masih berhutan dan meliputi 7 tipe utama hutan dengan variasi hingga 18 tipe hutan, termasuk hutan bambu, hutan nipah, hutan sagu dan hutan savana.
Indonesia mempunyai luas hutan yang menempati urutan ke tiga dunia setelah Brasil dan Zaire. Luas hutan Indonesia kini diperkirakan mencapai 120,35 juta ha, atau 63 persen luas daratan (Herdiman, 2003). Hutan di Indonesia umumnya adalah hutan dypterocarpaceae atau hutan dataran rendah yang banyak terdapat di Sumatera dan Kalimantan. Selain itu, Indonesia juga mempunyai jenis hutan lain seperti hutan mangrove, hutan savana dan hutan pegunungan bersalju di Papua.
Hutan-hutan tersebut merupakan habitat berbagai macam flora dan  satwa  endemik dunia. Habitat-habitat ini mengalami ancaman kritis. Diindikasikan hutan di Indonesia mengalami deforestasi sekitar dua juta hektar setiap tahunnya.  Banyak organisasi-organisasi lingkungan hidup yang dituduh melebih-lebihkan berita, membuat isu bahwa hutan di Indonesia mengalami deforstasi sebesar itu. Pada kenyataannya, hal itu memang terjadi. Semakin sempitnya tutupan hutan di Indonesia, semakin rendah kemampuan hutan untuk menyimpan persediaan air sehingga terjadi banjir dimana-mana, tanah longsor dan serta juga dapat menyebabkan pemanasan global.
Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di seluruh dunia. Kita dapat menemukan hutan baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin, di dataran rendah maupun di pegunungan, di pulau kecil maupun di benua besar. Orang awam mungkin melihat hutan lebih sebagai sekumpulan pohon kehijauan dengan beraneka jenis satwa dan tumbuhan liar. Untuk sebagian, hutan berkesan gelap, tak beraturan, dan jauh dari pusat peradaban. Sebagian lain bahkan akan menganggapnya menakutkan. Namun, jika kita mengikuti pengertian ilmu kehutanan, hutan merupakan suatu kumpulan tetumbuhan, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas.
 Pohon sendiri adalah tumbuhan cukup tinggi dengan masa hidup bertahun-tahun. Jadi, tentu berbeda dengan sayur-sayuran atau padi-padian yang hidup semusim saja. Pohon juga berbeda karena secara mencolok memiliki sebatang pokok tegak berkayu yang cukup panjang dan bentuk tajuk (mahkota daun) yang jelas. Suatu kumpulan pepohonan dianggap hutan jika mampu menciptakan iklim dan kondisi lingkungan yang khas setempat, yang berbeda daripada daerah di luarnya. Jika kita berada di hutan hujan tropis, rasanya seperti masuk ke dalam ruang sauna yang hangat dan lembab, yang berbeda daripada daerah perladangan sekitarnya. Pemandangannya pun berlainan. Ini berarti segala tumbuhan lain dan hewan (hingga yang sekecil-kecilnya), serta beraneka unsur tak hidup lain termasuk bagian-bagian penyusun yang tidak terpisahkan dari hutan.

A.  MACAM-MACAM HUTAN
Dalam rangka memanfaatkan hutan bagi umat manusia maka para ahli kehutanan mengklasifikasikan hutan dalam berbagai macam hutan.  Mengklasifikasi sesuatu merupakan bagian penting suatu proses berpikir. Dalam hal ini maka hutan dapat diklasifikasikan berdasarkan :

1.         Menurut asal
         Kita mengenal hutan yang berasal dari biji, tunas, serta campuran antara biji dan tunas. Hutan yang berasal dari biji disebut juga ‘hutan tinggi’ karena pepohonan yang tumbuh dari biji cenderung menjadi lebih tinggi dan dapat mencapai umur lebih lanjut. Hutan yang berasal dari tunas disebut ‘hutan rendah’ dengan alasan sebaliknya. Hutan campuran, oleh karenanya, disebut ‘hutan sedang’.

Penggolongan hutan menurut asal hutan (Sanusi, 2010), antara lain:
a.      Hutan perawan (hutan primer)
Hutan perawan merupakan hutan yang masih asli dan belum pernah dibuka oleh manusia atau telah mendapat gangguan sedikit dalam keperluan berburu, wisata, dan mengambil hasil hutan bukan kayu  pada dasarnya tidak mengalami perubahan dari bentuk aslinya.
b.      Hutan sekunder
Hutan sekunder adalah hutan yang tumbuh kembali melalui proses suksesi sekundersetelah ditebang atau kerusakan yang cukup luas dari pembukaan lahan untuk perkebunan, illegal logging lalu lama kelamaan tumbuh secara alami. Akibatnya, pepohonan di hutan sekunder sering terlihat lebih pendek dan kecil. Namun jika dibiarkan tanpa gangguan untuk waktu yang panjang, kita akan sulit membedakan hutan sekunder dari hutan primer. Di bawah kondisi yang sesuai, hutan sekunder akan dapat pulih menjadi hutan primer setelah melewati ratusan tahun.

2.         Hutan berdasarkan jenis pohon yang dominan
Hutan berdasarkan jenis pohon yang dominan dapat dibedakan atas :
a.      hutan jati (teak forest)
Hutan jati adalah sejenis hutan yang dominan ditumbuhi oleh pohon jati
(Tectona grandis). Di Indonesia, hutan jati terutama didapati di Jawa. Akan tetapi kini juga telah menyebar ke berbagai daerah seperti di pulau-pulau Muna, Sumbawa, dan Flores.
b.      hutan pinus (pine forest), di Aceh.
c.       hutan dipterokarpa (dipterocarp forest), di Sumatra dan Kalimantan.
d.      hutan ekaliptus (eucalyptus forest) di Nusa Tenggara.
Hutan Jati, Hutan Pinus, Hutan Eucaliptus, yang menurut Sagala tidak dapat disebut sebagai hutan tetapi Kebun Kayu (Sagala, 1994). Ada yang menarik dalam Istilah kehutanan di Indonesia yaitu dikenal adanya Hutan Jati dan Hutan Rimba yaitu hutan selain hutan Jati., sehingga kayu selain kayu Jati disebut sebagai kayu Rimba.

3.      Hutan berdasarkan Fungsinya
Menurut fungsi hutan maka hutan negara diklasifikasikan  oleh Menteri menjadi  empat jenis yaitu Hutan Lindung, Hutan Produksi, Hutan Suaka Alam dan Hutan Wisata (UUPK:5/1967). Sedangkan dalam undang-undang Kehutanan yang baru yaitu UUK No 41 tahun 1999, hutan mempunyai tiga fungsi, yaitu : fungsi konservasi, fungsi lindung, dan fungsi produksi.  Yang dimaksud dengan hutan konservasi meliputi hutan suaka alam, hutan pelestarian alam dan taman buru.
a.          Hutan lindung
Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang karena keadaan sifat fisik alamnya diperuntukkan guna mengatur tata air, pencegahan bencana banjir dan erosi serta pemeliharaan  kesuburan tanah. Untuk ini maka kawasan hutan yang berada diatas ketinggian 500 Meter diatas permukaan laut harus dipertahankan sebagai hutan lindung. Penyimpangan dari ketentuan ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan a) letak dan keadaan hutan; b) Topografi; c) Iklim; d) keadaan dan perkembangan masyarakat dan hal lain yang akan ditetapkan lebih lanjut (PP 33, 1970)

b.         Hutan Produksi
           Hutan produksi adalah kawasan hutan yang diperuntukkan guna produksi hasil hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat pada umumnya dan khususnya unuk pembangunan, industri dan ekspor. Misalnya hutan Jati (Tectona grandis), hutan Akasia (Acasia auriculiformis), hutan Sengon
( Albizzia falcataria), hutan Pinus (Pinus merkusii).

Dalam klasifikasi lebih lanjut dikenal adanya hutan produksi terbatas dan hutan produksi tetap yaitu pada areal hutan alam yang telah diberikan pada para pemeganang HPH yang menggunakan system TPTI . Perbedaan antara  hutan produksi  tetap dengan hutan produksi tidak tetap ialah di hutan produksi tetap diameter pohon yang boleh dipanen minimal 50 CM, sedangkan pada areal hutan produksi terbatas hanya pohon dengan diameter 60 CM- up yang boleh dipanen. 

c.          Hutan Suaka Alam
           Hutan suaka alam adalah kawasan hutan yang karena sifatnya khas diperuntukkan secara khusus untuk perlindungan alam hayati dan/atau manfaat-manfaat lainnya.    
Dalam hal ini dikenal adanya Cagar Alam dan Suaka Margasatwa. Cagar Alam ialah hutan Suaka Alam yang berhubungan dengan keadaan alamnya yang khas termasuk alam hewani dan alam nabati, perlu dilindungi untuk keperluan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Sedangkan yang dimaksud dengan Suaka Margasatwa ialah hutan Suaka Alam yang ditetapkan sebagai tempat hidupnya margasatwa yang mempunyai nilai khas bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta merupakan kekayaan dan kebanggaan nasional.
d.         Hutan Wisata
Hutan wisata adalah kawasan hutan yang diperuntukkan secara khusus untuk dibina dan dipelihara guna kepentingan pariwisata dan/ atau wisata buru.        
Hutan wisata yang memiliki keindahan alam, baik keindahan nabati, keindahan hewani, maupun keindahan alamnya sendiri mempunyai corak khas untuk dimanfaatkan bagi kepentingan rekreasi dan kebudayaan disebut Taman Wisata.
Hutan Wisata yang di dalamnya terdapat satwa buru yang memungkinkan diselenggarakan perburuan yang teratur bagi kepentingan rekreasi disebut Taman Buru.
Berdasarkan Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Hutan di Propinsi Kalimantan Timur, maka direncanakan luas untuk masing-masing fungsi hutan adalah sebagai berikut:

No
Klasifikasi areal
Luas areal (Ha)
Persentase (%)
1
Hutan Lindung
3.062.630
17,20
2
Hutan Suaka Alam
1.835.600
8,70
3
Hutan Produksi Terbatas
4.826.100
22,89
4
Hutan Produksi Tetap
5.578.700
26,46
5
Hutan Produksi yang dapat dikonversi
5.217.900
24,75
Total wilayah kawasan Kalimantan Timur
21.084.600
100,0


 
  4.   Hutan Berdasarkan pemiliknya
Menurut Undang-undang pokok Kehutanan No. 5 Tahun 1967, berdasarkan pemiliknya maka hutan dapat dibedakan atas hutan negara, hutan milik, dan hutan masyarakat.
a.    Hutan negara ialah kawasan hutan dan hutan yang tumbuh di atas tanah yang tidak dibebani hak milik.
b.   Hutan milik ialah hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik. Menurut Junus dkk (1985) hutan milik umumnya disebut sebagai hutan rakyat yaitu hutan-hutan yang terletak di luar kawasan hutan negara.
c.    Hutan masyarakat ialah hutan yang dimiliki oleh masyarakat sebagai kumpulan orang-orang yang terhimpun dalam suatu badan hukum. Badan hukum rakyat yang berhubungan dengan hutan adalah hak ulayat, sepanjang hak ulayat itu masih ada.

5.      Hutan Berdasarkan permudaannya
Berdasarkan permudaannya hutan terbagi atas :
a.      Hutan buatan (Artificial regeneration )
Hutan buatan ialah hutan yang terbentuk oleh karena campur tangah manusia maka hutannya sering disebut dengan Hutan Tanaman, misalnya hutan Jati, hutan Mahoni, Hutan Sengon dll. hutan buatan (man-made forest), misalnya:
·         hutan rakyat (community forest)
·         hutan kota (urban forest)
·         hutan tanaman industri (timber estates atau timber plantation)
b.      Hutan alam (Netural forest)
Hutan alam (Netural forest) adalah hutan yang berasal dari permudaan alami. Misalnya dikenal adanya hutan alam Jati (walupun hutan Jati alam di P. Jawa ditanam oleh manusia). Hutan alam Pinus di Aceh, Hutan Dipterokarpa, Hutan Bambu, Hutan Eukaliptus di Maluku.
-          Hutan alam primer merupakan hutan alam asli yang belum pernah dilakukan penebangan oleh manusia. Hutan ini bercirikan pohon-pohon tinggi berumur ratusan tahun yang tumbuh dari biji. Hutan alam primer mencakup hutan perawan, hutan alam primer tua dan hutan alam primer muda.
-          Hutan alam sekunder merupakan hutan asli yang pernah mengalami kerusakan oleh kegiatan alam. Hutan ini bercirikan pohon-pohon yang lebih rendah dan kecil apabila dibandingkan dengan pohon-pohon pada hutan alam primer. Hutan alam sekunder mencakup hutan vulkanogen, hutan kebakaran alam dan hutan penggembalaan alam.

6.      Hutan Berdasarkan tinggi tempat
                Menurut Manan (1998) yang mengacu pada pendapat Junghuhn, berdasarkan tinggi tempat dari permukaan laut dikenal adanya empat zona tipe-tipe vegetasi   yaitu:
a.       Zone Panas (0-700 m dpl).
 -   Hutan Bakau (Mangrove) di pantai dengan jenis pohon : Avicennia marina, A. officinalis, Rhizophora mucronata, R. conjugata, Bruguiera gymnorrhiza, B. Parviflora, Sonneratia spp., Ceriops candolleana, Carapa spp.,  Heritiera spp., Excoecaria spp., Xylocarpus granatum. Dibelakangnya terdapat Nipa fructicans dan Alstonia scholaris.
-   Hutan Pantai di belakang hutan Bakau yang berisis jenis-jenis : Dodonaea viscosa (tengsek), Gluta rengas, Calophyllum inophyllum (Nyamplung), Barringtonia tiliaceus, Terminalia catappa (ketapang), Casuarina equisetifolia (Cemara laut), Oncosperma filamentosa (nibung), Arenga obtusifolia (lengkap), Corrypha gebanga (gebang), Borassus flabellifer (lontar).
-   Dataran rendah terdapat padang rumput, belukar dan hutan rendah, dengan jenis-jenisnya: Talok (Grewia celtidifolia), Ploso (Butea monosperma), Kemloko ( Phyllanthus emblica), Sengon ( Albizzia stipulata), Waru ( A. procera), Trengguli (Cassia fistula), Johar (Cassia siamea), Bungur (Lagerstoemia speciosa), Stercullia spp, Dillenia spp, Ficus spp.
-  Hutan tinggi yang terdapat sesudah dataran rendah terdiri atas species:Albizzia spp dan Acacia leucophloea. Di daerah dengan iklim kering yang nyata, iklim musim, terdapat hutan jati (Tectona grandis) Jenis lain yang menggugurkan daun ialah Pilang, Klampis, Albizzia spp, Kesambi (Schleichera oleosa), Walikukun (Actinophora fragrans).

b.      Zone Sedang (700-1500 M dpl).
Padang rumput dengan belukar dari jenis-jenis : Padang rumput belukar dari jenis : Alsophila sp., Cyathea sp., Hemithelia sp., Phyllanthus emblica. Sedangkan hutan tinggi dengan famili : Myristicaceae, Tiliaceae,  Sapotaceae, Annonaceae, Michelia spp. Mangliaetia spp., Euphorbiaceae, Theaceae, Dipterocarpaceae, Canarium altissimuns. Di daerah paling atas terdapat Quercus spp, Podocarpus spp, dan famili Lauraceae.

c.       Zone Sejuk (1500-2500 M dpl)
Hutan tinggi dengan jenis-jenis: Podocarpus spp, Lauraceae, Casuarina junghuniana. Hutan ini ditandai dengan banyaknya epifit, paku-pakuan, lumut dan parasit-parasit. Di Jawa Timur terdapat hutan cemara gunung yaitu Casuarina junghuniana.

d.      Zone Dingin (2500 –3300 me dpl: batas pohon).
                Terdapat di puncak-puncak gunung dengan jenis-jenis : Ternstroemiaceae (Eurya sp.) Tilliaceae , Rosaceae, Ercaceae, Compositae, Leguminosae (Albizzia Montana), Sapindaceae, Paku pohon.

               Samingan (1971) mengklasifikasikan hutan berdasarkan tinggi tempat dunia sebagai berikut:
Ø Hutan dataran rendah
Hutan dataran rendah merupakan tipe klimaks vegetasi hutan dataran rendah dan bukit-bukit mulai dari ketinggian  0 — 600 m dpl. Di dalam zona ini terdapat beberapa zona (hutan pantai, hutan payau, hutan rawa,  hutan gambut) dengan formasi vegetasi yang sangat dipengaruhi oleh :
-          sifat edafik (formasi edafik)
sifat edafik (formasi edafik) yaitu lingkungan yang cukup banyak mengandung air.
-          Sifat iklim (Formasi klimatik)

Ø Hutan pegunungan rendah
Hutan pegunungan rendah terletak di ketinggian 600 — 1400 M dpl, hutan ini menyerupai hutan basah, pohon-pohon kecil serta berakar papan. Hutan pegunungan rendah terdiri dari Annonaceae dan Burseraceae. Pada ketinggian 1000 m dpl terdapat Dipterocarpus retusa dan Diptorocarpus simoresis, leguminosae, meliaceae, sapindaceae dan sapotaceae.

Ø Hutan pegunungan tinggi
Zona hutan pegunungan tinggi berada di ketinnggian 1400 — 3000 M dpl dan terdapat pada pegunungan Malaysia. Vegetasi zona ini termasuk hutan basah, hanya terdapat tajuk lebih dari satu lapis (One Storeyed Stand),.
Hutan pada zona ini tidak membentuk satu kesatuan karena di selingi oleh padang rumput dan semak atau paku-pakuan. Karena pengaruh iklim hutan pada zona terbentuk hutan savana (Mountain savana) dan padang rumput (Mountain grass land).

Ø Hutan sub alpin
Hutan sub alpin terletak di ketinggian 3000 — 4000 M dpl. Hutan ini lebih bersifat hutan basah daerah beriklim sedang (temperate rain forest) dengan perbedaan bahwa pada zona ini terdapat strata tunggal yang dibentuk oleh pohon-pohon kecil sebagai penutup tanah

Ø Hutan vegetasi Alpin
Hutan vegetasi Alpin  terletak di ketinggian 4000 M dpl keatas, terdapat daerah semak-semak dan terna dikotik tidak berpohon. Pada daerah ini dapat dijumpai beberapa jenis berkayu ( bukan pohon) seperti : Drimys dan Coprosma, tetapi umumnya rumput dan lumut adalah sebagai penutup tanah.

Sedangkan menurut Simon (1978), atas dasar ketinggian tempat di Indonesia maka dikenal adanya :
·  Vegetasi litoral (terendam)
·  Hutan Payau (Mangrove forest)
·  Hutan Rawa ( Swamp forest)
·  Hutan Gambut ( Peat swamp forest)
·  Hutan dataran rendah (Low land forest)
·  Hutan dataran tinggi (Lower mountain forest)
·  Hutan Pegunungan ( Upper mountain forest)
Vegetasi hutan berdasarkan atas dasar letak dari ketinggian tempat (penyebaran secara vertikal) sebagai berikut:

a.      Vegetasi litoral (terendam)
Vegetasi litoral terdiri atas ganggang dan rumput laut yang terendam, pada pantai berpasir vegetasi litoral dapat di jumpai hingga pada kedalaman + 4 m. vegetasi litoral memiliki akar menjalar Creeping root stock, dan seringkali hanya daunnya yang tersembul di permukaan pasir. Vegetasi ini memiliki penyebaran yang luas dan merupakan suku Hydrocharitaceae (Euhalus, Helophila, dan Thallsia) serta suku Patamogetonaceae (Cymodaceae dan Diplanhura).

b.      Hutan Payau
Hutan ini sering juga disebut dengan hutan Bakau atau hutan Mangrove, karena adanya jenis Bakau yang mendominasi tegakan hutan ini. Hutan payau tumbuh di daerah pantai yang selalu tergenang air laut. Terpengaruh pasang surut. Tidak dipengaruhi oleh iklim. Tanahnya berlumpur, berpasir, atau lumpur berpasir. Hutan ini hanya mempunyai satu sratum tajuk. Pohon dapat mencapai 30 meter. 
c.      Hutan Rawa
                   Hutan rawa dijumpai pada daerah yang selalu tergenang air tawar, tidak terpengaruh iklim. 
                  Umumnya terletak dibelakang hutan Payau, dengan jenis tanah aluvial. Tegakan hutan selalu hijau
                 dengan pohon yang tingginya dapat mencapai 40-60 meter.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar